Mugiono

Zaman Sudah Canggih, Tukang Becak Pun Bisa Berkicau

Posted on

Sudah tak perlu diragukan lagi, bangsa Indonesia sungguh senang dengan adanya eksistensi media sosial sejak teknologi merambah ke ranah Nusantara. Facebook, Twitter, dan yang sebagainya memang sudah merambah ke segala lapisan masyarakat Indonesia. Bukan cuma Presiden SBY saja yang harus punya akun Twitter, bahkan tukang becak pun sekarang aktif berkicau di media sosial populer ini. Mugiono antara lain salah satu dari sejumlah tukang becak generasi terbaru yang aktif di situs media sosial. Berbekal ponsel yang difasilitasi koneksi internet, tukang becak yang kerap mangkal di sekitar Malioboro, Yogyakarta ini rajin memboyong penumpang lewat internet.

Bagi Mugiono, internet sudah menjadi cara baru tuk mendapat penumpang becaknya. Tak hanya Facebook, tukang becak kelahiran tahun 1970 ini pun aktif di Twitter, Koprol, juga Friendster. Bukan cuma itu, ia juga punya situs sendiri. Lewat berbagai akun media sosial yang dimilikinya, ayah 3 anak ini membikin janji pada calon penumpangnya. Menurutnya, respon yang ada dari calon penumpang becaknya amat luar biasa. Hanya didalam waktu beberapa bulan, beberapa wisatawan domestik dan mancanegara berminat memanfaatkan jasa Mugiono tuk berkeliling Malioboro.

Berkat situs media sosial, Mugiono kini tak perlu lagi cari penumpang. Penghasilannya selaku tukang becak juga turut melonjak dan bahkan meroket dari biasanya melalui promosinya di media sosial. Harry van Yogya ialah seorang tukang becak lainnya asal Yogyakarta yang pun aktif menggunakan media sosial tuk mengembangkan usahanya ini. Pria yang bernama asli Blasius Haryadi biasa mangkal di wilayah Prawirotaman, Yogyakarta.

Berkat kepiawaiannya memakai  situs media sosial, Harry berhasil menarik banyak penumpang yang sebagian besar turis asing. Tak hanya itu, pengalamannya yang menarik menjadikan kisah hidup Harry dituangkan kedalam bentuk buku bertajuk “The Becak Way”. Satu film dokumenter pun sudah dibuat tuk merekam keseharian pria jebolan IKIP Sanata Dharma tersebut. Tidak hanya buku, Harry pun aktif sharing pengalaman hidupnya dengan mengarang artikel di satu media nasional. Ia pun kerap diundang tuk menjadi pembicara seminar sampai dengan memberikan kuliah umum mengenai media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *