Saat Mempromosikan Merek/Brand Betulkah Public Relations Menyuap Media?

Posted on

Telah lama ada pandangan jika Public Relations (PR) sudah menyuap media, hal ini dikarenakan media terus memberikan versi peristiwa dari satu sisi serta gambaran realitas yang menyimpang. Pekerja Public Relations sering dilihat tidak lebih dari yang menjadi manipulator kebenaran. Tapi demikian, pandangan kritis PR ini, sepihak didalam asumsi jurnalis selalu mengungkapkan kebenaran, terus menginterpretasikan realitas secara benar, dan tidak pernah mendistorsi fakta-fakta bagi kepentingan mereka pribadi. Merek/brand memang menjadi point terpenting dari sebuah produk oleh karena itu tidak salah bila artikel di situs pendaftaran merek ini menyampaikan argumen yang sangat tepat sekali.

Praktik “suap” dalam mempromosikan merek yang dikerjakan perusahaan Public Relations dengan mengundang para jurnalis di acara makan siang bersama, membuat rencana perjalanan PERS, serta memberi sesuatu pun dilihat jadi perilaku suap. Bisa dikatakan bahwa walaupun jurnalis serta praktisi PR menyadari permainan yang dikerjakan, dan sebab semua pihak mengerti serta menerima jika praktisi PR menjalin hubungan dengan jurnalis dalam rangka mengupayakan liputan berita yang benar untuk produk mereka, hal itu bisa diterima.

Pendaftaran Merek

Para jurnalis pers menyadari motif dibelakang pemberian sesuatu serta perjalanan gratis dan masih sudah siap pergi bersama pemberian itu sebab mereka mendapatkan apa yang mereka mau. Ini pun tidak mengancam kemerdekaan tajuk rencana mereka. Tidak ada jaminan bila seorang jurnalis bakal menulis laporan yang tidak ada kritik seputar perusahaan ataupun produk bisa sebab mereka telah diundang makan siang dengan praktisi PR.

Masalah korupsi media lewat kedatangan pers kendati penting, bagaimanapun juga bukanlah persoalan lebih penting dari itu semua serius dalam hal hubungan antara PR serta media. Sekarang, timbul situasi berat sebelah yang mana bobot dari praktik jurnalis sudah dikalahkan industri public relations. Terdapat kekhawatiran para pemilik media bakal memotong biaya produksi secara mengurangi jumlah jurnalis, lalu sebagai gantinya memakai tajuk rencana yang mereka peroleh dari perusahaan PR sehingga pada akhirnya mengakibatkan berkurang-kurangnya tingkat standar kekritisan tajuk rencana.

Kondisi ini semestinya jadi perhatian serta tanggung jawab ekstra para praktisi PR. Memang sepintas kelihatannya keadaan ini merupakan kesempatan emas untuk Public Relations serta media untuk mengoptimalkan tajuk rencana. Tapi, keduanya musti diingat jika cepat ataupun lambat dengan makin pintar dan kritisnya masyarakat, maka penyalahgunaan fungsi ini bakal diketahui hingga efek yang timbul ialah menurunnya kualitas media dan berdampak buruk kepada image industry Public Relations. Oleh karenanya anda harus tahu berapa biaya mendaftarkan merek tersebut (baca informasinya) atau baca syarat untuk mendaftarkan merek jadi tidak usah lagi untuk melakukan suap terhadap para media informasi agar merek anda tidak terkesan dipaksakan populerannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *